FIG 11.27
Operational Amplifier (Op-Amp) merupakan salah
satu komponen dasar yang banyak digunakan dalam sistem elektronika analog.
Op-Amp memiliki banyak aplikasi, di antaranya sebagai penguat sinyal
(amplifier), penjumlah (summing amplifier), pengurang (differential amplifier),
pengikut tegangan (voltage follower), filter aktif, dan osilator. Karena
sifatnya yang serbaguna dan karakteristik ideal yang mendekati sempurna, Op-Amp
menjadi bagian penting dalam desain rangkaian analog. Praktikum ini bertujuan
untuk memahami cara kerja serta implementasi dari berbagai aplikasi Op-Amp
dalam rangkaian nyata.
- Menganalisis
karakteristik dan prinsip kerja Op-Amp dalam berbagai konfigurasi
rangkaian.
- Menerapkan
Op-Amp sebagai:
- Penguat
tak membalik (non-inverting amplifier),
- Penguat
membalik (inverting amplifier),
- Penjumlah
(summing amplifier),
- Pengurang
(differential amplifier),
- Pengikut
tegangan (voltage follower).
- Mengamati dan mengukur respons keluaran dari masing-masing aplikasi Op-Amp berdasarkan variasi sinyal masukan.
Alat
a. voltmeter
Voltmeter adalah alat ukur listrik yang
digunakan untuk mengukur beda potensial listrik (tegangan) antara
dua titik dalam suatu rangkaian listrik. Tegangan ini biasanya diukur dalam
satuan volt (V). Voltmeter harus dihubungkan secara paralel dengan
komponen atau bagian rangkaian yang ingin diukur tegangannya, agar dapat
membaca beda potensial secara akurat tanpa memengaruhi aliran arus secara
signifikan.
b. ammeter
Ammeter adalah alat ukur listrik yang
digunakan untuk mengukur arus listrik yang mengalir dalam
suatu rangkaian. Satuan yang digunakan untuk mengukur arus listrik adalah ampere
(A). Untuk mendapatkan pengukuran yang benar, ammeter harus
dihubungkan secara seri dengan elemen atau bagian dari
rangkaian yang ingin diukur arusnya.
Bahan
a. resistor
Resistor adalah komponen elektronik pasif
yang berfungsi untuk menghambat atau membatasi aliran arus listrik dalam
suatu rangkaian. Hambatan yang diberikan oleh resistor dinyatakan dalam
satuan ohm (Ω).
b. ground
ground adalah titik
referensi tegangan yang dianggap memiliki potensial nol volt.
Ground berfungsi sebagai jalur kembali arus listrik dan
sebagai acuan untuk semua tegangan lain dalam sistem. Ground sangat penting
untuk memastikan kestabilan kerja rangkaian, mencegah gangguan
sinyal (noise), serta melindungi komponen dari kerusakan akibat lonjakan
tegangan.
Operational Amplifier (Op-Amp) adalah salah
satu komponen aktif dalam elektronika analog yang berfungsi sebagai penguat
tegangan. Op-Amp terdiri dari sirkuit terpadu (IC) yang memiliki dua masukan,
yaitu masukan inverting (–) dan masukan non-inverting (+), serta
satu keluaran (output). Op-Amp dirancang untuk memiliki penguatan tegangan
open-loop (tanpa umpan balik) yang sangat besar, biasanya mencapai puluhan ribu
kali lipat.
Dalam aplikasinya, Op-Amp jarang
digunakan dalam konfigurasi open-loop. Sebaliknya, Op-Amp lebih sering
digunakan dengan konfigurasi closed-loop (dengan umpan balik), di
mana resistansi eksternal ditambahkan untuk mengendalikan dan menstabilkan
penguatan tegangan. Ini memungkinkan Op-Amp berfungsi secara linear dan sesuai
kebutuhan rangkaian.
Secara ideal, karakteristik Op-Amp adalah sebagai berikut:
- Penguatan
open-loop (A_OL) sangat besar (mendekati ∞),
- Impedansi
input sangat tinggi (mendekati ∞),
- Impedansi
output sangat rendah (mendekati 0),
- Tegangan
offset sangat kecil,
- Catu
daya biasanya ±12V hingga ±15V.
1. Inverting Amplifier (Penguat Membalik)
Pada konfigurasi ini, sinyal input
diberikan ke terminal inverting (–) melalui resistor input RinRin,
sementara terminal non-inverting (+) dihubungkan ke ground. Sebuah resistor
umpan balik RfRf menghubungkan output ke input inverting. Output yang
dihasilkan berlawanan fase (180°) terhadap input. Besarnya penguatan diberikan
oleh:
Vout=−(RfRin)VinVout=−(RinRf)Vin
Penguat jenis ini banyak digunakan dalam aplikasi pemrosesan
sinyal, karena menghasilkan sinyal output yang simetris dan terbalik dari
input.
2. Non-Inverting Amplifier (Penguat Tak Membalik)
Dalam konfigurasi ini, sinyal input
diberikan ke terminal non-inverting (+), sedangkan terminal inverting (–)
dihubungkan ke ground melalui jaringan resistor (biasanya dua buah
resistor: R1R1 dan RfRf). Keluaran tidak dibalik, dan memiliki
penguatan:
Vout=(1+RfR1)VinVout=(1+R1Rf)Vin
Konfigurasi ini cocok untuk aplikasi yang
memerlukan penguatan dengan polaritas sinyal yang tetap, misalnya pada tahap
awal penguatan sinyal dari sensor.
3. Summing Amplifier (Penguat Penjumlah)
Penguat ini digunakan untuk menjumlahkan
beberapa sinyal input analog. Konfigurasi dasarnya mirip dengan inverting
amplifier, tetapi memiliki lebih dari satu input yang masuk ke terminal
inverting melalui resistor masing-masing. Output yang dihasilkan merupakan
jumlah terbalik dari semua input:
Vout=−(RfR1V1+RfR2V2+⋯ )Vout=−(R1RfV1+R2RfV2+⋯)
Penguat penjumlah digunakan pada sistem
pengolahan sinyal, mixer audio, dan penggabungan sinyal dalam sistem
komunikasi.
4. Differential Amplifier (Penguat Diferensial)
Jenis ini digunakan untuk
menguatkan selisih antara dua sinyal input. Kelebihan penguat ini adalah
kemampuannya menolak sinyal gangguan bersama (common-mode). Rumus dasar
outputnya:
Vout=(RfR1)(V2−V1)Vout=(R1Rf)(V2−V1)
Penguat diferensial sangat penting dalam aplikasi seperti
pembacaan sinyal dari sensor dengan pengaruh noise, penguat instrumen, dan
sistem komunikasi diferensial.
5. Voltage Follower (Pengikut Tegangan atau Buffer)
Konfigurasi ini memiliki input pada
terminal non-inverting (+), sementara output langsung diumpan balik ke terminal
inverting (–). Karena tidak ada resistor umpan balik eksternal, maka
penguatannya hanya 1x:
Vout=VinVout=Vin
Voltage follower digunakan untuk memisahkan
bagian rangkaian yang sensitif terhadap arus, karena impedansi input-nya
sangat tinggi dan impedansi output-nya sangat rendah. Ini mencegah gangguan
pada sumber sinyal.
6. Aplikasi Lain Op-Amp
Selain kelima konfigurasi dasar di atas, Op-Amp juga
digunakan dalam berbagai aplikasi lainnya:
- Integrator
dan Differentiator, untuk sistem kendali dan pemrosesan sinyal,
- Filter
aktif (low-pass, high-pass, band-pass),
- Comparator,
untuk membandingkan dua sinyal,
- Oscillator,
sebagai pembangkit gelombang sinus atau segitiga.
1. Berapa nilai Rf yang diperlukan agar 10 mV
input menghasilkan 2 mA arus pada meter? R1=100kΩ,Rs=10Ω
Jawaban:
2. Berapa tegangan input AC RMS maksimal agar meter 0–1
mA tidak kelebihan beban? (Asumsikan full scale 1 mA, Rs = 10 Ω)
Jawaban:
3. Jika Rs diganti menjadi 20 Ω, berapa arus
meter saat V1=10mV?
Jawaban:
1. Apa
fungsi dari transistor Q1 pada rangkaian Fig. 11.27a?
A.
Meningkatkan tegangan output dari op-amp
B.
Membatasi arus ke lampu agar tidak berlebih
C.
Menguatkan arus untuk menyalakan lampu beban besar
D.
Mengatur level logika dari input op-amp
Jawaban: C.
Menguatkan arus untuk menyalakan lampu beban besar
Alasan: Transistor
Q1 digunakan sebagai penguat arus. Output dari op-amp hanya mampu memberi arus
kecil (30 mA), sedangkan lampu membutuhkan arus besar (600 mA). Dengan β
(penguatan arus) minimal 20, transistor dapat mengalirkan arus besar dari catu
daya ke lampu ketika diberi arus kecil di basisnya. Jadi, Q1 berfungsi sebagai
saklar aktif untuk mengalirkan arus besar ke lampu.
2. Jika
op-amp pada Fig. 11.27b memberikan output sebesar +5V, berapa arus yang
mengalir ke LED?
A. 5 mA
B. 20 mA
C. 30 mA
D. 50 mA
Jawaban: B.
20mA
Alasan: Tegangan
output op-amp adalah 5V dan resistor seri 180Ω membatasi arus ke LED. Maka arus
teoritisnya: I = V/R = 5V / 180Ω = 27.78 mA
Namun,
dalam teks disebutkan bahwa rangkaian dirancang untuk hanya memberikan 20 mA
(kemungkinan karena karakteristik LED atau pembatasan internal op-amp). Maka
jawaban yang paling sesuai adalah 20 mA.
3. Apa
yang terjadi pada lampu di rangkaian Fig. 11.27a saat input noninverting lebih
besar dari input inverting?
A. Lampu
padam karena transistor Q1 off
B. Output
op-amp menjadi nol
C.
Transistor Q1 aktif dan lampu menyala
D.
Tegangan input tidak mempengaruhi lampu
Jawaban: C.
Transistor Q1 aktif dan lampu menyala
Alasan: Saat
input non-inverting (+) lebih tinggi dari inverting (−), output op-amp akan
naik ke tegangan positif maksimum (sekitar +5V). Ini menyebabkan arus basis
mengalir ke transistor Q1 (30 mA), sehingga transistor aktif dan mengalirkan
arus kolektor-emitor sebesar 600 mA untuk menyalakan lampu.
Download Proteus Fig 11.27 [klik disini]
Download Datasheet Resistor [klik disini]
Download Datasheet Op Amp 741 [klik disini]
Download Datasheet LED [klik disini]
Download Video [klik disini]






Komentar
Posting Komentar